Tampilkan postingan dengan label Reflections. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reflections. Tampilkan semua postingan

Ramadhan Kareem







Ya Rahman.. sampai lagi kami di Ramadhan-Mu tahun ini.

Ramadhan kali ini Indonesia satu suara. Serentak memutuskan setapak dalam satu keputusan besar bersama. Maghrib dimana hilal disepakati nampak diberbagai titik menjadi euforia dua ratus juta lebih warga Indonesia. Tarawih digelar, pesan-pesan singkat segera dikirim ke sanak saudara yang jauh nun disana. Memohon maaf jika ada salah yang diperbuat selama perjalan menuju ramadhan tahun ini. Memohon keikhlasan tentang kemungkinan-kemungkinan adanya perilaku yang tak sesuai di hati. Tangan-tangan ditengadahkan, meminta ridho yang Maha Raja agar diperkenankan menjadi pejuang tangguh hingga penghujung nanti. Memohon supaya shaum tahun ini bisa lebih sesak amalnya dibanding tahun-tahun yang lalu.

Ramadhan nanti, siangnya penuh berkah, bahkan gelap-nya pun memberi pelajaran..  

Tiada kesenangan yang paling menyenangkan bagi seorang mu’min dibanding kenikmatan mengecap kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan pencipta-nya. Dan ramadhan adalah momen yang tepat. Dimana pahala kebaikannya langsung dari Allah, dimana amal kebaikan dilipat gandakan sedemikian rupa, maghfirah dibuka selebar-lebarnya. Maka gunakan waktu yang hanya sekitar 29-30 hari ini untuk semakin akrab dengan Allah, semakin paham apa tujuan kita diciptakan didunia ini.  
Selamat berjuang ya.. :) Insya Allah bersua lagi, 1 Syawwal.

Catatan salinan : Samboja, 01 Ramadhan 1438 H

Bersedihlah..


Tak perlu sedih jika ditinggalkan oleh manusia, sedihlah jika kau jumpai dirimu diacuhkan oleh Allah dalam maksiat. Tidak terketuk pintu hatimu saat disapa nasehat, berpaling engkau saat diajak merapat.
Bersedihlah, sesedih-sedihnya.. jika ternyata kau temukan dirimu malu dengan produk Sunnah, tetapi berkoar bangga dengan kreasi racikan akhir zaman. Menghindari yang ma’ruf dan tak absen dari yang munkar.
Menangislah.. jika amalan yang kau anggap membukit, ternyata hanya seujung kuku. Perilaku yang kau yakini baik, ternyata mengundang cela.
Malulah.. jika kau lebih memilih menggadai semua yang kau punya kepada syahwat dunia, dan tak memilih jual-beli dengan Allah yang sudah tentu pasti.
Tepuk dadamu.. tanya imanmu. Apa sudah benar jalan yang kau pilih? Apa telah sesuai dengan yang telah ditentukan?

#Reminder (Especially, to myself)

Waktu

Waktu adalah rahasia paling misterius dalam hidup. Dimensi yang tak akan mampu disentuh langsung oleh manusia manapun. Mozaik paling rumit yang tak mungkin diraba akal dangkal manusia biasa.
Waktu juga selalu mengundang definisi berbeda dari setiap yang ada didalamnya. Yang menunggu berkata waktu adalah dimensi panjang yang membosankan. Sedang yang sedang berbunga membantah tegas, waktu hanyalah rangkaian kejadian pendek yang melompat cepat tanpa henti. Ringan dan menyenangkan. Yang meratap berbeda lagi, ia akan sendu menjelaskan bahwa waktu hanyalah lolong kepedihan yang menekan perasaan. Pedih dan sangat tidak membahagiakan, menyiksa.
Bagiku.. waktu adalah rangkaian sporadis, tidak tentu, dan kadang kala mengejutkan. Aku sering tertawa didalamnya, namun tak sedikit juga menangis. Kadang perasaanku melambung naik karena bahagia, kadang juga waktu menontonku tersungkur dengan wajah sembab.
Kehebatan waktu selalu membuatku berdecak kagum. Jika terjebak nostalgia dengan orang tuaku misalnya, membicarakan masa lalu, betapa hebat waktu mengantarku begitu cepat hingga kedetik ini. Mengecap beribu bahkan berjuta kenangan serta kejadian dengan begitu tak terasa.
Menjelma dari gadis kecil ingusan menjadi wanita setengah matang. Dari gadis kecil berseragam merah putih lusuh hingga menjadi mahasiswi seperti saat ini. Jujur, membayangkan bahwa waktu akan kembali mengantarku kepada skenario hidup baru yang tak sama sekali bisa kutebak script naskah dan alurnya membuatku sedikit cemas. Akan seperti apa aku dimasa depan? Pertanyaan yang selalu menggema mamantul dalam benakku. Satu yang aku yakini benar, bahwa yang harus kulakukan sekarang adalah melakukan yang terbaik dimasa sekarang dan bersimpuh mengangkat tangan kepada yang menguasai sang waktu agar diberikan sisa waktu untuk terus melakukan perbaikan.  

Sang Murabbi..








Muara tarbiyah kita. Darinya kita mengenal makna murni Ketauhidan. Ia adalah telaga yang tak akan surut airnya, mata air yang tak akan kering manfaatnya, mengalir disetiap ruas sendi hidupnya. Setiap kata yang mengalir dari bibirnya adalah untaian mutiara yang tak bisa ditawar harga. Kemilau dan penuh makna.
Sang Murabbi,
Ia adalah Qudwah dalam detak jantung ummat ini. Tanpanya, matilah segala syaraf perjuangan di medan dakwah ini. Dari tangannya-lah kader tangguh pergerakan ini lahir, tumbuh, terdidik dan me-regenerasi pendahulu.
Keikhlasan serta kerja keras mereka adalah komposisi dalam setiap episode dakwah ini. Mereka adalah orang-orang yang saling bersaudara dalam susah dan senang, dalam tawa dan tangisan. Mereka adalah orang-orang yang abai cemohan tetapi keras terhadap kemaksiatan. Ba’al hinaan tetapi geram kepada kedustaan. Usia mereka mungkin tidak terlalu panjang, tetapi ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi panjang usia mereka.
Saat menulis ini, tiba-tiba saya teringat perkataan Alm. Ustadz Rahmat Abdullah, seorang Murabbi senior yang semoga Allah merahmati beliau, beliau berkata dalam sebuah kesempatan “untuk apa-lah usia yang panjang, namun tanpa isi”, tersentak diri saya, bagaimana dengan usia yang sudah kita habiskan? Penuh dengan amalan kah? Full dakwah kah? Atau malah sesak maksiat? Penuh perbuatan yang tak mengundang manfaat tapi malah gudangnya mudharat? Mari bersama kita bermuhasabah diri. Jangan-jangan kita menganggap diri termasuk dalam barisan tapi nyatanya tertinggal sendirian dibelakang. Jangan-jangan kita mengira sudah maksimal berdakwah, tapi hakikatnya seujung kuku pun tak ada.
Karena dalam barisan ini terpecah menjadi dua jenis kader dakwah, ada yang lelah lantas lirih mengucap lillah ada juga yang lantang berteriak lillah tetapi tak henti mengeluh lelah. Sudah barang tentu, para Murabbi adalah yang meski badannya habis dicabik-cabik cobaan dan fitnah tapi ia tau jelas tujuannya, “Lillah”.

Samboja, 07 Juni 2016