Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Parcel Mini La Tansa


Karya: Nurul F. Huda

Novel setebal 234 halaman ini sukses membuat saya senyum-senyum sendiri. Kadang juga terkikik geli. Kalimatnya sederhana, renyah, mudah dipahami dan tentunya.. kocak. Saya melahap habis novel ini hanya dalam sekali duduk, bukan karena saya expert reader atau yang lain. Tapi karena selain halamannya yang tidak terlalu banyak, juga memang novel ini sangat menarik. Cocok dengan keadaan saya yang sedang berat pikiran. Novel ini seperti merefresh otak saya agar tidak tegang.
Bercerita tentang perjalanan lima orang sahabat dari strata sosial yang beragam, mimpi yang tak sama dan karakter yang berbeda langit bumi. Adjie si borju yang kelewat murah hati, Arief ; lelaki polos yang didalam kepalanya sudah hinggap setengah dari mushaf, calon Da’i kata mereka, Fely; lelaki yang sedikit feminine, si koki andalan yang juga sibuk didunia entertain-nya, Jimmy; calon dokter hewan, manajer keuangan La Tansa yang sangat rinci dan hemat (baca: pelit) dan Hary; leader La Tansa yang kerjaannya ngebossy, seorang komikus yang sangat produktif. Mereka lebur dalam sebuah visi mulia: Dakwah. Mereka berusaha menyajikan sebuah kemasan dakwah yang dibungkus modern dan sesuai dengan zaman: La Tansa Male Café. Café khusus laki-laki yang dibangun susah payah dengan peluh mereka. Dengan berjuta cerita didalamnya.
Dalam novel ini saya melihat semangat kader dakwah yang kreatif dan mandiri.  Cocok untuk siapa saja yang mungkin sedang futur berat dijalan dakwah ini atau hanya recommended buat yang lagi berat kepalanya dengan beban dan butuh obat refresh. Try to read this novel.     


Disalin dari catatan tanggal: 17 Mei 2016

Ebiet G. Ade


Ebiet G. Ade adalah ritme sendu dalam kerinduan yang mendalam untukku..
Suaranya punya kekuatan magis, membuatku betah berputar dalam mantranya berjam-jam didekapan sunyi.
Syairnya selalu sederhana, tapi dalam makna. Membuatku kadang mabuk nostalgia masa kecil.
Ganjil memang, aku lahir era 1990-an, minus dua menuju era 2000. Tapi akrab dengan karya-karya legendaris diawal karirnya. Bahkan cenderung lebih cinta pada karya awalnya dibanding single terbarunya.
Kadang beberapa teman hanya menggeleng tak mengerti, aneh dengan selera musik ku yang tak biasa. Biarlah..
Baru beberapa pekan belakangan ku tahu, pecinta Ebiet G. Ade terhimpun dalam kelompok nirnaba yang melabeli dirinya dengan MemBers EGA (Membumi Bersama Ebiet G. Ade). Pantas jika sang legendaris ini punya banyak sekali penikmat setia, mungkin mereka juga salah satu yang tersihir oleh mantranya.  
Sama..

Sepertiku.


(FYI: Meskipun sebenarnya aku lebih mencintai Maher Zain dalam merdu suaranya)