Tampilkan postingan dengan label Catatan Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Lepas. Tampilkan semua postingan

Catatan Lepas (02)


Memang sulit meredam suara-suara bising yang ingin kita padam.
Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa mengaku kalah dan angkat bendera putih bukan gayaku.

Teruslah menjadi sederhana, apapun kemewahan yang akan datang kedepannya.
Tetaplah berlaku penuh tanya pada jawaban yang seolah nyata benar adanya.  
Berlakulah penuh kejujuran, sekelam apapun kebenarannya.
Karena ternyata.. 
Setelah lama ku refleksi..

Yang membuatku pertama kali menyatakan "tertarik", malah kutemukan sehari setelah kau dengan berani memaparkan dengan jujur segalanya.

Tidak biasa memang pada awalnya, ada nyeri seolah dicabik keyakinan sendiri.
Apalagi mendengar apa yang ditutur banyak orang tentangmu. 
Tapi ku kuatkan diri, ingat si pemintal cerita kenamaan dalam tetraloginya pernah berujar; bahwa orang yang berpendidikan harus berlaku adil bahkan sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.
Maka kuputuskan untuk berusaha objektif.
Yakin bahwa pasti ada cerita dari sudut pandang lain yang lebih pantas didengarkan. Dan barang tentu pantas dipertimbangkan.

Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa harus dihormati dan diindahkan? 

Catatan Lepas (01)


Seperti baru kemarin saat kulintasi barisan sabat lebat disepanjang jalan ini denganmu. Seperti baru saja usai kita tertawa lepas meski sesak rasanya kehidupan direnggang nafas kemiskinan. Seperti baru sedetik berlalu ketika dengan semangat kita bercerita tentang masa depan yang indah, bercerita tentang ingin jadi seperti apa kita di masa yang akan datang, lantas berjanji untuk akan bersama, senasib dan sepenanggungan sampai nafas terakhir berhasil kita hirup.
Kadang ada saat dimana aku benar-benar ingin kembali kemasa itu, mengecap berbagai kenangan bersamamu dalam riuh bahagia. Ingatkah? Dulu kita selalu memandang masalah terbesar hanya ketika lintasan jalan untuk pulang terlalu becek untuk dilalui. Tapi sekarang benar-benar berbeda. Mungkin karena dulu aku terlalu mendambakan masa dimana aku bisa tumbuh dan menjadi dewasa. Tetapi menjadi dewasa tidak se-menyenangkan yang ada dipikiranku dulu. Mata kecilku seperti dipaksa terbelalak untuk dunia yang terlalu besar.
Perasaan itu muncul lagi senja ini, saat dunia terasa tertalu riuh meneriakkan hal yang tak ku mengerti, aku merasakan kerinduan itu lagi. Aku ingin kembali kemasa itu, bersamamu.


Samarinda, 23 April 2016  
(Late Post)