Tampilkan postingan dengan label Lumbung Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lumbung Kisah. Tampilkan semua postingan

Setangkup Cinta dari Pondok Pesantren



Tiba-tiba rindu itu menyeruak, menuntut jemari ini menari tanpa komando. Sedang dalam pikir berkelebat ingatan tentang kenangan lama. Kenangan yang akhir-akhir ini mencuat ditengah sesaknya kesibukan mengejar hal-hal duniawi. Kenangan yang seakan-akan datang sebagai pengingat bahwa dunia bukan satu-satunya jalan menggenggam bahagia.
Aku ingat jelas hari itu, hari pertama resmi menyandang gelar santri di pondok pesantren yang terletak hampir ditengah hutan itu. Aku hanya meringis pada mama melihat jalanannya yang membuat tubuhku terguncang, saat pertama kali diantar menggunakan angkot yang beliau sewa untuk membawa lemariku. Mama hanya banyak diam sepanjang perjalanan, aku tahu jelas alasannya. Menjadi santri adalah hasil rembugan dato (baca: kakek) dan bapak, bukan mama. Keputusan akhir jelas; mama kalah suara.
Pesantren itu sangat tenang saat pertama aku datang. Tidak banyak kegiatan didalamnya. Hanya ada beberapa wanita muda yang lalu lalang dengan jilbab besarnya. Aku bahagia hari itu, tak lama lagi semua perintah mama akan jarang kudengar. Disuruh ini, disuruh itu. Jangan ini dan jangan itu. Tapi kenyataan menertawakan espektasiku. Belum genap tiga hari aku menetap, aku sudah merindukan sosoknya.
Aku sontak menyesali ide “nyantri” ini, dan mengutuk siapa saja yang menjerumuskanku dalam ide tersebut. Dalam bayanganku saat diujung perjuangan kelas 6 SD nyantri adalah ide yang sangat cemerlang. Segalanya akan menjadi mudah dan menyenangkan didalamnya. Nyatanya aku tersiksa lahir bathin saat awal dipesantren dulu, bayangkan saja untuk kesekolah jarak yang membentang antara asrama dan gedung sekolah adalah kurang lebih satu kilometer. Belum lagi kenyataan bahwa aku harus mencuci, menyetrika dan menyiapkan bajuku sendiri. Tiba-tiba aku membenci segala tuntutan aktivitas tersebut, terlebih memakai jilbab segi empat kaku untuk sekolah (maklum, dizamanku jilbab paris/segi empat tidak booming seperti sekarang), aku pernah menangis karena terlanjur dongkol gara-gara jilbab yang semenit kupakai semenit kemudian sudah mencong sana sini. Tak karuan.
Juga tentang kamar mandi yang tidak setubuh dengan asrama. Harus keluar dari asrama sejauh beberapa meter, melewati taman, rumah ibu dapur dan pohon mangga besar tempat bercokol jin-jin yang tak tahu dari mana rimba asalnya. Membuatku tersiksa setiap malam, karena kebelet buang air kecil. Alhasil, aku menahannya hingga shubuh menjelang. Tersiksa, jelas.
Belum lagi menu makannya yang kadang membuat tenggorokanku seret. Tak sesuai dengan versi makanan yang sesuai dengan tenggorokanku. Tempe yang terlampau garing, kangkung yang berkuah terlalu banyak dan keras, atau terong pedas yang hanya dimakan dengan nasi. Lauk ayam tiba-tiba jadi primadona yang jarang ditemui dipesantrenku. Hasilnya, aku makan dengan bersungut-sungut atau malah memilih tak makan sekalian dan meringkik dikasur diserang maag.
Semuanya membuatku rindu rumah, rindu mama, rindu adik-adik, rindu bapak dan semuanya..
..
Seperti baru usai kemarin sore, saat kami, hampir setengah kelas duduk beruntun ditangga menurun dekat mushalla kecil pesantren kami dan menangis terisak bersama. Alasan klasik santri diawal perjuangan: rindu ibu. Yang kusadari adalah kenyataan bahwa yang tersiksa selama beberapa hari dipesantren ini ternyata bukan aku seorang. Hampir purna satu kelas. Kadang aku mengingat geli peristiwa itu, isak kami nyaring dan bersamaan seperti dikomando.
..
Seminggu awal penuh dengan perkenalan dan cerita MOS. Di Indonesia, orientasi sepertinya selalu saja jadi ajang menakutkan bagi murid baru, dimanapun ia memilih bersekolah. Karena dihantui bayang-bayang akan dipermalukan senior, atau malah mempermalukan diri sendiri di depan senior.
Di pesantren ku, MOS menjadi event yang cukup berkesan. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompokku terdiri dari empat orang, dan aku yang ditunjuk sebagai ketua kelompok. Mengemban tugas menjadi komando yang akan bertanggung jawab penuh terhadap setiap anggota. Berat dan menantang. Orientasi ini penuh dengan games, mulai dari games yang hanya perlu duduk santai sampai level saling tindih menumpah air secara anarkis. Dari yang hanya tebak gaya sampai saling menepok wajah sendiri dengan pupur secara brutal. MOS yang penuh games itu menghabiskan dua hari yang tak bisa dilupakan.
Sedang satu hari terakhir kami disuguhi out bond mengelilingi areal pesantren yang dijalari perdu dan penuh sabat. Bukit landai yang ditumbuhi kelapa dan kebun salak yang dekat dengan kuburan. Kesyukuranku adalah aku mendapatkan anggota yang bisa diandalkan, mulai dari yang gesit hingga grasak-grusuk dan yang diam tapi banyak akal. Kami tersesat, bahkan sampai tingkatan bertengkar ditengah jalan tentang jalan yang benar, juga diperintah mencari kelapa busuk yang disembunyikan, mencari orang, hingga memanjat kelapa kuning dengan sistem kerja sama, jadilah perintah itu menjadi ajang saling injak pundak yang mengerikan. Pemimpin utama yang bertugas paling atas adalah temanku yang ramping dan grasak grusuk. Belum genap lima menit, kelapa sudah gedebuk ketanah. Kami yang bertugas memopong meringis diinjak kaki kecilnya, bahu kami nyut-nyut. Hasil dari “kerja keras” kami itu diperintahkan untuk dibawa ke pos terakhir. Hati kami berbunga, dalam hati tumbuh harapan mungkin untuk diminum bersama.
Sampai ke post yang terakhir, kenyataan terkikik geli atas harapan kami karena kami malah dituding mencuri kelapa yang bukan hak kami. Temanku yang bertugas memegang kelapa bergetar halus, kepalanya ditekan dalam-dalam. Kami dimarahi habis-habisan dan dihukum mengunyah pucuk jambu yang bukan main pahit. Aku senyam-senyum memperhatikan kelompok lain yang baru saja sampai setelah kelompok kami, ada yang diteriaki karena minum berdiri, ada yang membawa kelapa busuk didalam bajunya, ada yang dihukum dsb.. Saat asyik senyam senyum sembari menikmati sisa pucuk jambu didalam mulut. Suara melengking seniorku mengagetkanku. Aku diomeli karena dianggap tidak melindungi anggota kelompok karena malah tersenyum geli sendiri dan tidak merasa bersalah atas hukuman yang diderita mereka. Akhirnya aku resmi menyandang gelar baru: “ketua watados” wajah tanpa dosa. Ini adalah salah paham besar. Sungguh. :D   
Pemberian gelar itu sekaligus menjadi akhir dari out bond kami hari itu, kami kembali dengan wajah pias ke asrama. Lelah menjajah tubuh kecil kami. Jadilah kami terkapar bak teri pantai yang dijemur sembari menunggu antrian mandi.
Setelah shalat Isya rampung, rencana untuk segera bercumbu dengan kasur gagal total. Tiba-tiba kami dikumpulkan serentak dimushalla, semua santriwati baik yang baru maupun yang lama. Alasan dibalik ini semua cukup mengejutkan, kasus pencurian! Salah satu mudhabbirah kehilangan uang. Dan tentu saja mencuri tidak ditoleransi dipesantren. Aku duduk tenang-tenang saja, karena yakin bukan aku yang mencuri. Tapi keyakinan itu dikoyak-koyak setelah sedetik senior berwajah cantik didepan menyebut namaku. Ia melotot geram. Aku belum sepenuhnya sadar, kenapa aku dipanggil. Tapi ketika ia setengah berteriak menyebutku (lebih tepatnya memfitnahku) mencuri. Aku menggigil. Teman-teman ku menatap tak percaya. Kakak tingkat yang duduk melingkar menatap sinis, tak percaya anak lugu diawal tahun saja sudah berani mencuri.
Aku diseret keasrama, disana aku dibimbing kedepan lemariku. Aku bersumpah berulang kali, didepan seniorku itu tapi ia jutek tak menanggapi. Aku memelas, memohon bahkan setengah mengemis untuk dibebaskan dari tuduhan yang tidak berperikemanusian ini (oke, ini lebay). Tapi ia menatapku tajam, cantiknya luntur diganti wajah tegas yang jahat. Ia mengobrak abrik lemariku, tepat dibawah selipan baju tidurku uang 50ribu melayang terbang diudara. Aku bisu, tidak mungkin. Aku bersumpah demi apapun aku tidak pernah menyentuh apa yang bukan milikku. Keluargaku memang tidak kaya, tapi aku tak akan mencuri barang orang lain. Menyentuh saja tidak berani apalagi sampai mengambil. Aku bersumpah sambil menangis, meminta ia mendengarkan alasanku. Tapi seniorku itu malah menarikku kemushalla tempat semua santri masih berkumpul. Terjadilah adegan tarik-menarik antara aku dan seniorku itu. Aku tidak mau dituduh tanpa alasan dan dipermalukan dengan tuduhan keji itu. Tapi apa daya dengan tubuh kecilku saat itu, aku kalah tenaga. Aku diseret paksa kemushalla sambil menangis.
Sesampai dimushalla, semua santriwati menatapku lekat-lekat, akhirnya aku memilih menangis sambil menutup mata. Malu dan merasa keji. Sampai tiba-tiba benda aneh terasa menggantung ditubuhku dan bertakhta dikepalaku. Aku membuka perlahan tangan yang menutupi wajahku, semua wajah yang menatapku tajam tadi berubah sumringah penuh senyum. Memelukku dan mengucap maaf pelan. Aku membaca benda aneh yang terdiri dari juntaian puluhan permen ditubuhku, “Miss Orientasi”. Gelar yang diberikan kepada peserta pilihan terbaik dalam masa orientasi. Sontak saja aku lega bukan kepalang, ternyata panitia ospek bersekongkol mengerjaiku hingga merengek. Sebenarnya aku menyesali sikapku, andai aku bersikap cool dan santai saat tuduhan itu dilayangkan. Mungkin aku tidak dikikiki geli senior-seniorku setelah peritiwa itu itu.
Ah.. waktu begitu cepat berlalu.
Panjang sebenarnya jika harus kurangkai semua episode kami dipesantren. Cukup intro saja untuk saat ini.
Tahun-tahun setelahnya aku mulai berubah, dari seorang santri yang tak henti mengeluh menjadi santri yang begitu mencintai gelar yang disandangnya.
Aku banyak mendapatkan pelajaran yang mungkin tidak akan kudapatkan diluar saat menjadi santri, aku bisa mengurus kepeluanku secara mandiri, mengatur keuangan, tidak lagi cerewet masalah makanan, bersyukur dengan semua keadaan, aku tidak lagi mengeluh masalah jarak yang harus kutempuh kesekolah karena ternyata banyak hal yang bisa kulakukan saat sedang dalam perjalanan, bercerita kepada teman sampai menghafal qur’an dan belajar. Aku juga sudah tak terlalu ingat keluhanku perihal kamar mandi yang jauh itu. Aku menikmati semuanya dengan senang hati, jilbab segi empat juga sudah bisa diajak berkolaborasi dengan bentuk wajah. Tidak lagi tanpa bentuk seperti dulu.
..
Memoar kenangan itu seolah mengepak terbang keangkasa malam ini, berhambur berserak dalam rimba pikirku, ingin rasanya mereka ulang segalanya. Melewati hari dengan hati ringan bersama kalian, menikmati nasyid yang menggema dari jantung sound system yang menggema dibalkon asrama, atau hanya duduk menunggu maghrib seraya membaca lembar demi lembar mushaf kecil kita dan saling memuraja’ah hafalan tahfidz Al-Quran yang sering kali tersendat bersama. Rindu rasanya makanan asrama yang berkuah itu, ingat saat kita duduk melingkar dan menyantap menu sederhana itu dengan penuh syukur. Ingin rasanya menyaksikan kembali pentas seni dan muhadhoroh rutin setiap malam minggu dimushalla kecil kita. Atau agenda tak resmi kelas kita diminggu pagi, mancing dirawa besar dibelakang ma'had. Makan satu kelas dalam nampan besar yang membuat ibu dapur mendumel tak jelas, agenda jurik yang memacu andrenalin, juga acara buat seblak yang selalu berakhir dengan sakit perut jama’ah.
Ah..aku bahkan tak tahu, jika semua hal kecil yang kita kecap bersama dulu, membuatku meringkuk rindu sekarang. Bahkan terasa terlalu menyesakkan jika harus kuronce semuanya, membuatku semakin dirundung rindu untuk kembali menikmati setiap denting peristiwa bersama kalian.. (Mardha Sazaen)
…     
Aku bersyukur menjadi bagian anak muslim yang pernah menyandang status “santri”, bagaimana denganmu? 
Ananda jangan ragu untuk menjadi santri.. Insya Allah, sangat-sangat bermanfaat.

#YukNyantri     

Hijrahku dan Jariyyah-mu




Pagi ini kutatap langit yang basah, hujan baru saja usai mengguyur seantero kota. Mendung masih menggantung dilangit kota Samarinda. Bau khas riwayat hujan tadi malam merayap membelah celah tanah, berdesak sesak dalam hidungku, menguap bersama dendang katak dinaungan semak. Kulangkahkan kaki riang melompati cekungan-cekungan air cokelat yang berbaris acak dijalan pagi ini. Membuat sepatu dan jeans ketatku sedikit kotor. Hari pertama kuliah harus semangat, batinku. Sembari sedikit bergumam pelan melantun empat bait lagu berulang-ulang. Justin Timberlake-Mirror. Melangkah riang.
            Sampai pada kelima kali bait yang sama itu ku ulang, aku sudah berdiri dialtar gerbang kampus. Kutengok kedalam, tapi yang kutemukan : lenggang. Hanya ada dua orang remaja berjilbab, satu dari keduanya sedang sibuk dengan gadgetnya dan satu lainnya terlihat membaca. Kuseret kaki kesamping kanan remaja putri yang berjilbab satin merah muda yang asyik dengan tab-nya, ia tetap fokus pada layar besarnya itu, seakan mati rasa dengan hadirku disampingnya.  Yang satu lagi menatapku ramah, jilbabnya sedikit berbeda dari yang disampingku. Lebih besar dan longgar. Aku menatapnya ganjil. “Umurnya pasti masih sangat muda, kenapa memutuskan untuk tampil aneh seperti itu? Tak lebih seperti ibu-ibu pengajian”. Aku mendumel dalam hati. Saat kutatap jilbab besarnya risih, Ia melempar senyum padaku, kubalas senyumnya dengan gerak bibir kaku. Apa ia bisa membaca pikiranku? Batinku. Ia berpindah tempat kesampingku dengan gerak lambat.
“Assalamualaikum..” Ia berujar sopan. Sembari membetulkan terusannya yang sedikit terinjak.
“Wa’alaikumsalam..” jawabku kikuk.
“Saya Ulfah, Sastra Inggris 2015”. Ia mengangkat tangannya kedepanku dan tersenyum.
“Saya Nurul,, Sasing 2015.” ku sambut tangannya dan balas tersenyum. Kali ini aku berhasil membentuk gerak bibir ikhlas.
Itulah awal perkenalan kami, perkenalan yang mengantar kami kepada kisah persahabatan yang akan beruntut berbaris setelahnya. Aku rasa Tuhan sudah menggoreskan sketsa takdir terindah-Nya diatas kanvas cerita kami. Tuhan menakdirkanku untuk bisa duduk dalam kelas yang sama dengan Ulfah. Menambah akrab persahabatannya denganku. Hari-hari selanjutnya, Ulfah sering menghabiskan waktunya bersamaku, menemaniku di kost bahkan menginap-pun lumayan sering. Aku banyak mengamatinya, setiap tindak-tanduknya dan banyak belajar darinya. Ia sangat berbeda dari yang lain, saat mata kuliah tuntas, tak seperti banyak mahasiswa yang memilih kongkow, ia akan memutar badan bergerak lincah menyeret kaki menyerbu masjid terdekat untuk menunaikan shalat, saat waktu lenggang bukannya sibuk dengan gadget seperti hampir sebagian mahasiswa ia akan terlihat khidmat membaca lembar demi lembar Al-Qur’an dan hal yang paling membuatku salut, ia bersahabat kepada semua orang, tanpa memandang apa latar belakang orang tersebut. Aku mengaguminya.
Ia terkadang menarik sopan lenganku saat adzan berkumandang, lantas kami melangkah berdampingan berkejaran dengan lantunan adzan.
“Shalat itu hal yang harus selalu jadi prioritas ukh. Shalat itu kebutuhan kita kepada Allah, bukan kebutuhan Allah kepada kita.” Ia berujar lembut sambil melipat mukenah saat kami selesai menengadah didepan Multazam-Nya.
Ulfah juga membawa dua Al-Qur’an didalam tas kecilnya. Menaruhnya didalam tasku dan meminjamkanku. Dia tahu, dikostku tidak ada Al-Qur’an karena aku lupa memasukkannya dalam ‘list dibutuhkan’ saat pertama mutasi ke kost. Semua yang diberikannya kepadaku membuatku haru, hal yang tak pernah aku dapatkan dari orang lain. Membuat dinding jiwaku diketuk riuh penyesalan masa lalu. Ingin rasanya aku kembali kemasa lampau dan mengenalnya lebih awal.
Jenjang satu bulan aku mengenalnya, satu demi satu perbuatan buruk yang acap kali kulakukan kutinggalkan. Benar kata pepatah “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya”. Hari-hari berikutnya, aku dibui rasa penasaran. Celah-celah obrolan kami disesaki pertanyaan-pertanyaanku seputar keislaman dan ia dengan sabar menjawab semua pertanyaanku tanpa memandangku rendah. Bahkan kata-kata yang (mungkin) mudah baginya namun asing ditelingaku seperti ukhti, akhi, akhwat, ikhwan, afwan, syukran dan yang lainnya kutanyakan padanya, ia mendikte arti dan menjelaskan satu persatu kata-kata tersebut dengan sangat sabar.  Ia berusaha mengajar tanpa sedikitpun mengguruiku. Ia juga tak pernah absen mengajakku menghadiri agenda mentoring setiap seminggu sekali.
“Untuk membasahi ruh jiwa kita ukh.. seminggu sudah sibuk dengan urusan duniawi maka tak ada salahnya bahkan masuk kepada ranah kewajiban untuk memberi makan ruh rohani kita”. Ia menjelaskan dengan gurat wajah menyenangkan saat kutanya alasannya gigih membatalkan rapat oraganisasi debating yang ia ikuti untuk tetap hadir dalam agenda mentoring ini.
Masuk bulan kedua aku mengenalnya, aku mengamatinya lekat, dalam balutan terusan panjang dan hijab besarnya itu ia terlihat sangat anggun. Busana itu membuatnya dihormati, tak ada yang pernah menatapnya lekat dan berujar sembarangan kepadanya sepanjang ingatanku mengenalnya. Akhirnya, aku berusaha memberanikan diri, menghubungi ibu dan ayah meminta izin dan doa untuk berhijrah. Mereka mengucap syukur berulang kali saat kuberitahu niatku, karena mungkin sebelumnya mereka hampir lelah menasihatiku untuk berjilbab dengan lebih benar dan rutin menunaikan shalat. Aku menutup rapat telingaku saat itu, astaghfirullah aku terpuruk dalam sesal saat mengingatnya. Saat itu juga aku tegas memutuskan me’rumahkan’ jeans-jeans dan pashminaku di kardus-kardus bekas dan menggantinya dengan rok, terusan panjang dan jilbab yang lumayan besar,. Buah dari tabunganku sejak SMA. Aku berusaha meng-imitasi penampilannya. Meski jumlah rok dan terusan panjangku saat itu tak banyak, aku berusaha terus tegap menuju satu misi Syar’i. Masih terpatri jelas dalam ingatanku saat pertama kali kukenakan gamis ungu tua dan atasan Rabbani ungu muda kekampus, ia menatapku berbinar mengucap syukur dan memujiku terlihat cantik dengan gamis dan jilbab yang kukenakan. Aku.. merasa bahagia dan semakin menggantung azzamku diangkasa untuk istiqomah. Dilain sisi, aku berusaha memperketat waktu shalatku, membuatnya sedisiplin mungkin. Aku, saat itu memutuskan dengan tekad melangit akan mengikuti jejaknya. Aku menguatkan niat dan bulat memutuskan berhijrah.
***
Saat itu senja baru saja beranjak diganti tahta rembulan ditemani formasi gugus bintang dilangit, saat remang bohlam lampu Islamic Center menyentuh dinding-dinding pot tanaman hias, aku baru saja keluar dari dalam ruang utamanya setelah menunaikan shalat maghrib dengan Ulfah. Ia mengajakku duduk dialtar depan masjid besar ini sembari melepas penat.
“Ulfah..”  aku berujar setengah berbisik kepadanya. Memecah sunyi.
“Iya?” Ia memutar badannya menghadapku, “Ada apa rul?”
Aku kalap, kata-kata yang sudah kupikirkan buyar mengepakkan sayap meninggalkanku dalam kebingungan.
“Kenapa rul?” ia menyentuh pundakku pelan.
“Aku..” terputus lagi, aku diam cukup lama, hening terciptakan diantara kami. Ulfah menatapku riskan. Aneh dengan sikapku..
“Nurul?” Ia berujar lagi
“Bantu aku berhijrah secara kaffah fah.. doakan aku” akhirnya kalimat itu mengalir. Dua detik setelah kalimat itu keluar, mataku terasa panas, mengembun dan tanpa izin bulir-bulir air itu menganak sungai. Ulfah mendekat, menggenggam tanganku yang didingin sembari mengusap punggungku dengan lembut. Ikut terisak.
“Alhamdulillah yaa Rabb, Bismillah, Insya Allah ukh, akan kubantu sebisa mungkin, Ahlan wa Sahlan” Ia menasbih nama-Nya, berkata pelan dan sedikit tergugu dalam tangis. Suanana haru maghrib itu, bersama derik sunyi semilir dari timur. Suasana haru biru yang menjadi awal perjuanganku.
****
Lolong malam dalam sunyi yang membungkus habis rembulan, jubah kelamnya menelan mentah-mentah gugus bintang. Mengantarku kembali keperaduan, mengadu pilu dalam bait-bait ratap yang panjang. Berharap pias sinar bola kemuning raksasa esok hari melumat habis rasa sesal yang pekat oleh rona dosa ini. Aku melihat kalender biru muda diatas box, hari ini 20 Oktober. Umurku sudah merayap keangka 18 tahun. Aku mengingat-ingat kejadian tadi siang saat mentoring.
“Nurul.. ini dari kami. Tak seberapa tapi semoga diterima. Baarakallahu fii umurikum ya.. semoga Allah semakin menguatkan hijrahnya”. Kak lina menyela beberapa kata sebelum majelis ditutup, dari dalam tasnya ia mengeluarkan kotak kado pink. Aku menatap sekeliling lingkaran, semua menatapku tersenyum. Aku menatap Ulfah, dan tak usah ditebak dengan sulit sudah pasti dia dalangnya. Aku masih menatap Ulfah dan tanpa sadar kotak pink itu sudah berpindah ketanganku, aku membukanya dengan gerak ragu, bergantian menatap sekelilling dan kotak itu. Terbuka… Jilbab merah muda dan Mushaf cantik berwarna ungu duduk manis didalamnya. Aku menatap mereka, mengucap banyak terima kasih. Diluar mushalla sedang gerimis, didalam hati juga gerimis. Aku menggigit bibir, menangis tersentuh. Formasi lingakaran majelis yang tadinya rapi, berhambur kearahku. Membuat formasi lingkaran acak memelukku.     
Aku terlelap dengan mata basah malam  ini. Memohon ampun, menasbih syukur atas karunia yang Allah berikan dan berharap diberikan kemudahan melangkah dijalan-Nya.
Aamiin …
NB :
Semoga akan semakin banyak “Ulfah” dalam pergerakan dakwah Islam ini, yang tak putus merekrut tunas-tunas da’iyah tangguh  dengan cara yang hikmah. 
Untuk catatan, cerpen ini murni fiksi belaka. Syukran.

#Mendukungmu-Melangit (To Syar’i)